
more...
|
|
|
|
List Price: Rp.41900.00
Price: Rp.35615.00
Diskon:
Rp.6285.00 (15%)
|
|
Tiba-tiba, cinta menjadi suatu hal yang menarik untuk dibicarakan kembali. Wajar saja, setelah dunia ini dipenuhi konflik-konflik berkepanjangan, manusia kembali merindukan kekuatan cinta. Kali ini, cinta yang hakiki. Cinta yang sanggup membongkar makna kekuasaan, kezaliman, ketidakpedulian, juga kebutuhan manusia akan sandaran hidup. Cinta adalah garansi nyata yang mendorong keinginan manusia untuk selalu berbuat, berperilaku, dan bersikap sesuai dengan hati nurani. Cinta bakal menciptakan kelapangan hidup ketika dunia terasa semakin sempit, saat kepercayaan mulai memudar dan ketika nurani tak lagi bicara.
Dengan pemahaman sederhana, cinta abadi adalah cinta yang berasal dari kekuatan maha; sebuah kekuatan satu-satunya yang layak menjadi tempat bersandar. Ia adalah Allah Azza wa Jalla. Setelah semua itu, takkan ada yang bisa menghalangi kekuatan cinta. Selamanya.
|
|
|

more...
|
|
|
|
List Price: Rp.26000.00
Price: Rp.22100.00
Diskon:
Rp.3900.00 (15%)
|
|
Tersebutlah Utsman bin Mazh’un, salah seorang sahabat Rasulullah Saw. Ia dipukuli habis-habisan oleh orang-orang musyrikin Quraisy hingga babak belur. Salah satu matanya rusak karena pukulan itu. Salah seorang tokoh mereka sangat menyayangkan kenekadan Utsman, mengapa ia tidak meminta perlindungan kepadanya agar tidak tertimpa musibah semacam ini. Demi mendengar hal itu, ia berkata, “Bahkan mata yang satu ini iri hati terhadap apa yang menimpa saudaranya.”
Ini hanya salah satu kisah bagaimana para sahabat “menikmati” penderitaan yang dialami karena membela Islam. Para ulama dakwah zaman ini berujar, “Nahnu natamata’ bi mata’ib ad-da’wah, Kita menikmati kesulitan dakwah.” Maka kita saksikan ketegaran para da’i di medan dakwah ketika memperjuangkan agamanya, meskipun kesulitan senantiasa menghadang sebagai resikonya.
Menikmati penderitaan, adalah perkara yang sulit dipahami oleh logika sederhana. Namun ia pernah dan akan terus terjadi sepanjang masa. Dan itu hanya terjadi pada mereka yang dimabuk cinta. Pun di “taman” Islam, kita mencatat berbagai kisah tentang cinta suci. Cinta hamba kepada Allah, cinta Allah kepada hamba, kisah cinta timbal balik antara Rasulullah dan para sahabat, dan cinta sesama hamba. Cinta yang melenakan, yang membius, dan menjadikan semua menjadi indah. Nikmat dan derita, adalah dua kata yang berseberangan maknanya. Namun dalam bingkai cinta, keduanya sama saja; indah.
Memadu Cinta di Taman Islam bertutur kepada Anda tentang keindahan cinta dalam naungan iman dan jihad fi sabilillah. Anda pun perlu terlibat di dalamnya
|
|
|